Tujuan esensial pendidikan adalah merangsang otak untuk berpikir.
Kalau kata Pak Mario Teguh ‘why so serious’ tapi pada hakikatnya, Nurul Hanifah Rahmadani ini suka merenungkan hal-hal trivial terus menerus. Salah satu hal tersebut adalah “nilai” ya, yang tercantum indah di pojok kanan atas kertas tes (kata Pak Saptana bukan “ulangan”) dan akan terpajang selamanya di selembar kertas yang diterima murid setiap akhir semester.Kenapa aku suka complaining ya? Yah, kembali ke hakikatnya aja.
Setiap kali guru mbicarain tentang nilai dan tetek bengeknya pas aku kelas 10, pikiranku selalu ‘nilai itu bukan segala-galanya, yang penting ilmunya’ well, sekarang, dengan pikiranku yang (agak) busuk nyimpulin:
FIRST, Tell that to the cheaters. Ya, mereka yang menghalalkan segala cara untuk (agak) membuat nilai mereka kelihatan (cukup) bagus (however, I’m not a hypocrite~ to be honest, “Sejarah dan KWN” sudah jadi satu paket exception buatku)
SECOND, It represents our comprehensions of things we’ve learnt
Nah, dari poin yang ke 2 itu aku mulai mikir. Oke, idenya, nilai di rapor itu merepresentasikan sejauh mana kita mengerti pelajaran yang diberikan. Tapi, itu hanya ide, ideal, kata Pak Saptana hanya ada di pikiran, kalau Pak Noor bilang semacam utopia gitu. Tentu aku ngga membicarakan semua (I hate generalizing things eventho all things I’ve typed are mostly apriori), tapi mayoritas, atau, setidaknya, hal ini terjadi di lingkunganku, atau diriku, at least. Nilai-nilai, yang katanya merepresentasikan ke-paham-an murid, terlalu manipulatif (in meus opinion loh). Kenapa terlalu manipulatif? Karena nilai tersebut mengalami manipulasi sedemikian rupa – baik manipulasi dalam memperoleh nilai itu sendiri dan manipulasi data yang sudah ter-sum. Some people might think “Yaudah sih yaaa toh nilaimu jadi lebih bagus dan ngemudahin jalanmu snmptn udangan nanti” ha ha ha (ketawa miris) gilak, kasihan banget deh bagi yang mikir kayak gitu~ Kesimpulannya? Rapor tidak bisa menjadi media/alat mutlak untuk merepresentasikan kepahaman pelajar. Kenapa? Karena mirisnya, meski nilai terpampang indah (9) dari kelas 10, 3 kali puasa 3 kali lebaran ini aku ngerangkum segala materi kimia, fisika, sama biologi aku belum begitu paham. MIRISSS! Memang begini? Atau Cuma aku aja yang dapet hoki nilai segitu tapi ngga terlalu ngerti apa-apa? Oh wells~ tetep aja, pada intinya, aku ngga mau seseorang dinilai dari nilai rapornya. Ya, aku.
Penutup~ setidaknya, yah, hidup itu isinya ngga cuma tentang ilmu dari buku sekolah, pengetahuan umum juga oke. Eneg dong ya kalau misalnya ngeliat si Pongo pigmaeus langsung kebayangnya kata pertama nunjukin genus, kedua spesies, beserta tata binomial nomenklaturnya padahal yang lebih penting dari itu adalah si pongo yang sudah di ambang kepunahan butuh bantuan kita <3~ hmm atau coba otak diisi pengetahuan yang (jauh lebih) menyenangkan, misalnya tentang Joseph Lister, dokter bedah kebangsaan Inggris yang (agak) berjasa mbantu kita dan masalah bau mulut kita (heeey emang kenapa nama produknya harus Listerine bukan Einsteinine, Linnaeusine atau Rutherforine?) HA!
De gustibus non est disputandum. Ngga ada yang perlu diperdebatkan masalah ‘selera’ :)


